Jumat, 21 Oktober 2011

Pesan Ibu


Aku baru bangun dan langsung melihat kejendela. Pagi  itu matahari seperti enggan keluar. Hari ini adalah hari minggu yang mendung. Aku yang berniat main hari ini pun lesu menatap kelangit. Aku melihat sekilas kelapangan dan lapangan itu kosong. Ya, kosong karena hujan ternyata sudah turun. Teman-temanku pasti tidak jadi bermain dilapangan hari ini. Aku menjadi tidak bersemangat dan malas untuk bangun dari tempat tidur.
Tapi ibu bangun dan menyuruhku lekas sholat dan mandi. Aku bangun dari tempat tidur dan segera berwudhu. Aku tidak mandi karena suasana pagi itu dingin dan sangat enak untuk tidur. Aku memutuskan untuk tidur kembali sehabis sholat, mumpung sekarang hari libur aku ingin tidur sepuasku.
“dimas bangun dim! Udah siang nih!”kata ibuku
“emang iya bu?”tanyaku dengan wajah masih mengantuk.
“emang iya! Nih lihat udah jam 11.00!”omel ibuku.
Aku langsung bangun dan segeraa mengambil handuk. Ternyata diluar hujan masih turun dan sepertinya akan turun lebih lama lagi. Airnya dingin sekali. Aku kedinginan setelah mandi, lalu segera memakai baju. Aku disuruh makan oleh ibu. Aku bingung ini masih bisa disebut sarapan atau tidak.
 Setelah makan,aku duduk diruang tamu memandangi hujan. Aku sangat merasa bosan dirumah. Aku mondar-mandir diruang tamu. Aku bingung ingin mengerjakan apa. Mau main diluar,pasti dilarang ibuku karena petir terus menyambar dan hari masih hujan. Mau bikin PR, aku malas karena aku merasa minggu adalah hari libur dan jauh dari tugas. Aku bingung dan menggerutu sendiri.
”Ah,hujan mulu daritadi!” gerutuku.
“kamu kenapa sih dim? ngedumel sendri gitu. Hujan itu disyukuri nak” ujar ibuku.
Ibu ternyata memperhatikanku dari tadi. Aku diam. Aku tahu, kalau aku berkata aku sedang bosan dirumah ibuku pasti menyuruhku membantunya. Ibuku sedang merapikan rumah dan setelah itu ia ingin membuat kue. Kalian tahukan kalau aku hanya sedang ingin bermain diluar? Tapi akhirnya aku memilih membantu ibu daripada tidak melakukan apa-apa.
Setelah membantu ibu, hujan berhenti. Ternyata hujannya cukup lama karena baru berhenti pada pukul 02.00 siang. Aku melihat lapangan sudah ramai dengan anak-anak. Aku segera mengambil sepedaku. Dan langsung menuju lapangan tetapi tiba-tiba ibu berteriak,
“awas dim pulangnya jangan sore-sore!bawa sepedanya hati-hati jangan ngebut ya!”perintah ibu.
“iya bu, tenang!”sahutku.
Aku sangat senang karena bisa bermain bersama teman-teman. Dilapangan sudah ramai anak-anak yang berkumpul. Ada Irfan,Ridwan,Yogi,Arif,Tria,Bela dan Dila. Mereka semua adalah tetanggaku. Kami semua tinggal di satu komplek yang sama.  
Kami memutuskan untuk bermain petak umpet dahulu. Setelah bosan kami berfikir untuk mengadakan balap sepeda karena biasanya sesudah hujan pasti lapangan didepan rumahku basah. Lapangan tidak berumput yang basah ini kami gunakan sebagai arena balap. Kami semua memilih satu lawan untuk bertanding. Bela dan Dila juga ikut karena dua temanku ini adalah anak yang tomboy. Aku melawan Tria,Irfan melawan Bela,Yogi melawan Arif, dan Dila melawan Ridwan.
Irfan dan Bela yang mendapat urutan pertama langsung bersiap dilapangan. Mereka mengambil ancang-ancang untuk memulai balap. Aku menjelaskan aturannya yaitu balap dilakukan 3 kali putaran lapangan dan yang pertama sampai finish dialah yang menang. Pemenang pertama akan diadu lagi dengan pemenang kedua,ketiga dan keempat.
Balapan pun dimulai, Irfan dan Bela saling kejar hingga akhirnya beladikalahkan oleh irfan.
“Seharusnya gue yang menang tuh.”ujar Bela tidak terima.
“enak aja, kalah sih kalah aja!”tangkis Irfan tak mau kalah.
“udahan ah ayo lanjut balapnya!”ujar Tria.
                Kali ini, aku dan Tria yang akan balapan. Aku dan Tria bersiap. Aku ingin menang melawan Tria dan aku bertekad akan mengayuh sepeda sekencang mungkin. Tapi tiba-tiba akau ingat pesan ibu agar jangan bawa sepeda dengan kencang. Tapi aku mengabaikannya. Aba-aba pun diberikan dan aku langsung mengayuh sepeda dengan kencang.
                Mungkin aku berdosa karena tidak mengingat pesan ibu maka, aku jatuh saat sedang belok dan membentur batu yang tajam. Betis sampingku berdarah dan sedikit terbelah. Aku meringis kesakitan dan teman-teman langsung membantuku berdiri. Balap pun dihentikan dan mereka semua mengantarku pulang.
Sampainya dirumah ibu kaget karena darah terus mengalir dari kakiku. Ibu langsung membersihkan lukaku dengan antiseptic dan segera membawaku keklinik terdekat. Untunglah lukanya tidak terlalu parah dan sobeknya hanya sedikit, sehingga tidak memerlukan jahitan.
Pulang dari klinik ibu langsung bertanya kenapa aku bisa terjatuh. Aku lalu berterus terang pada ibu bahwa aku balapan dan mengabaikan nasihatnya. Aku lalu minta maaf pada ibu. Ibu berkata agar aku selalu melakukan apa yang ibu perintah karena biasanya omongan seorang ibu merupakan do’a. mulai saat itu aku terus mengingatnya agar tidak terjadi lagi kejadian seperti ini.

cerpen buatan gue asli nih! huhuhuhu *bangga*

Tidak ada komentar:

Posting Komentar